Senin, November 23, 2009

antimateri

Menjejali parau desir semenanjung biru, pilu, menggema serinai gemuruh takbir, kembali diam memecah kebekuan - lakon serat Duridana menjelma di atas jelaga. Aku tertatih. Senyak bersedih. Bukan kepada sesuatu yang datang, namun kepada segala yang kerap tumpah dan berlinang.

Ini rupa punya siapa?  Penuh luka sejuta tanya. Dan sesap yang belum terucap, hingga akhirnya penuh tetap. Kita hadir disini, lantas diam mengingkari, sambut kabung beruntai-untai. Gembala kecil beriak, tergulung janji syahdu ombak. Matanya lekas - berusap riak. Bancak!

Ragaku senyap tersekat mimpi, melampaui kebengisan mega yang bersimbah nanti. Kini dan sesaat, pantun yang menepis sekelebat. Bukan muara tempat jiwa bertatap muka, namun riaknya berlomba-lomba. Menghadirkan senyum hampa. Tempat nuansa memuja berhala, dan sesosok patih Gajah Mada.

Rabu, Oktober 28, 2009

bung

Ayo! Bung..
Beta kasi selasi jari jemari
mari kita urut ikrar janji
Tak gentar,
tak lekang,
meski raga terlucut debu
Biar nadi luluh berdecit peluru
kami pemuda tetap bersatu!

#sumpahpemuda

Senin, Agustus 24, 2009

karimun 'di'

di sini
di tempat ini
di muara hatimu aku berperi
di tepi pantai cemara besar kamu berarti

di batu
di karang itu
di mana hatiku teracap pilu
di ujung semenanjung ratapmu memahabiru

di dalam
di tanjung gelam
di rapat dekapmu penuh lebam
di atas bukit bebatuan aku melihatmu tenggelam

di dasar
di celah selasar
di parang selatan penuh takar
di rindang gemericik air laut hatiku berpendar

di paruh
di usap kayuh
di menjangan kecil anganku berlabuh
di parau ombak senja kuberharap hatimu luluh

kapan kau kembali?